Showing posts with label Islamidia. Show all posts
Showing posts with label Islamidia. Show all posts

Monday, October 16, 2017

Inilah 2 Penyebab Utama Maraknya Kesesatan di Dunia

Kesesatan menjadi salah satu momok yang harus diwaspadai oleh kaum muslimin. Sebab kesesatan ini dapat menjerumuskan manusia dalam lembah kemaksiatan yang tidak akan membuat mereka bahagia di dunia apalagi di akhirat.
Banyak kesesatan di dunia dikarenakan godaan iblis. Makhluk Allah yang satu ini telah bersumpah akan menghalangi umat Islam untuk berbuat kebaikan dari berbagai sisi. Mereka akan senantiasa membisikan pikiran jahat kepada kita agar mengikuti perintahnya.
an tetapi, kesesatan itu tidak semata-mata berasal dari bujuk rayu iblis dan pasukkannya saja. Ternyata dalam diri manusia itu juga bisa menjadi penyebab utama maraknya kesesatan tersebut. Apa sajakah penyebab yang dimaksud? Berikut informasi selengkapnya.
1. Kebodohan
Penyebab utama kesesatan yang preyama ialah kebodohan. Kebodohan yang dimaksud di sini tidak semata-mata perkara ilmu duniawi. Akan tetapi juga kebodohan terhadap syariat Islam yang mulia dan sempurna. Hal ini merupapakan salah satu penyakit yang harus diwaspadai sebab dapat membahayakan bahkan membinasakan.

Orang yang memiliki kebodohan akan syariat Islam haruslah melawannya. Bahkan dinyatakan sahih oleh al-Albani) Asy-Syaikh Muhammad al-Imam hafizhahullah berkata (Bidayatul Inhiraf hlm. 133), “Kebodohan adalah musuh semua risalah yang dibawa oleh para rasul Shallallahu ‘alaihi wasallam. Oleh karena itu, Allah Subhanahu wata’ala memisalkan orang yang bodoh sebagai makhluk yang paling jelek yang berjalan di muka bumi ini. Firman-Nya,
Sesungguhnya binatang (makhluk) yang paling buruk pada sisi Allah ialah orang-orang yang pekak dan tuli yang tidak mengerti apa pun.” (al-Anfal: 22)
“Atau apakah kamu mengira bahwa kebanyakan mereka itu mendengar atau memahami. Mereka itu tidak lain, hanyalah seperti binatang ternak, bahkan mereka lebih sesat jalannya (dari binatang ternak itu).” (al-Furqan: 44)
Tidak hanya dikatakan sebagai makhluk yang paling jelek di muka bumi, bahkan merebaknya kebodohan menjadi salah satu tanda-tanda kiamat. “Sesungguhnya termasuk tanda-tanda kiamat adalah dicabutnya ilmu dan merebaknya kebodohan.” (Muttafaqunalaih dari Anas bin Malik)
Sabda beliau Shallallahu ‘alaihi wasallam yang lain : “Sesungguhnya Allah ‘azzawajalla tidak akan mencabut ilmu dari manusia dengan sekaligus. Akan tetapi, Dia akan mencabut ilmu dengan mewafatkan para ulama (ahli ilmu).Ketika Dia tidak menyisakan seorang alim pun, umat manusia akan menjadikan orang-orang jahil sebagai pemimpin mereka, kemudian para pemimpin itu ditanya. Mereka pun berfatwa tanpa ilmu sehingga mereka sesat dan menyesatkan.” (HR. al-Bukhari dari Abdullah binAmr radhiyallahu ‘anhuma)
2. Jauhnya Umat Dari Ulama Syariat
Penyebab kemaksiatan yang kedua ialah jauhnya umat dari ulama syariat. Tidak dapat dipungkiri bahwasanya banyak umat yang kini lebih menggandrungi orang-orang terkenal dibandingkan orang yang memiliki ilmu agama. Padahal sejatinya kita harus menjadikan para ulama syariat sebagai pemimpin yang harus ditaati dalam urusan kebaikan. Allah Ta’ala berfirman:

“Hai orang-orang yang beriman, taatilah Allah dan taatilah Rasul (Nya), dan ulil amri di antara kamu.” (an-Nisa: 59)
Para pemimpin inilah yang menjadi tempat mengadu umat selama mereka hidup di dunia. Tugas kita setelah itu ialah mendengarkan nasihat dan solusi yang diberikan olehnya. Hal tersebut dikarenakan merekalah orang yang paling memahami syariat dan hal-hal yang bermanfaat bagi umat baik itu urusan dunia ataupun akhirat. Allah Ta’ala berfirman:
“Dan apabila datang kepada mereka suatu berita tentang keamanan atau pun ketakutan, mereka lalu menyiarkannya. Dan kalau mereka menyerahkannya kepada Rasul dan Ulil Amri di antara mereka, tentulah orang-orang yang ingin mengetahui kebenarannya (akan dapat) mengetahuinya dari mereka (Rasul dan Ulil Amri). Kalau tidaklah karena karunia dan rahmat Allah kepada kamu, tentulah kamu mengikut setan, kecuali sebahagian kecil saja (di antaramu).” (an-Nisa: 83)
Jauhnya para umat dari ulama syariat ini dapat menyebabkan mereka terjerumus di dalam perbuatan yang sesat dan pada akhirnya terjerumus ke dalam panasnya api neraka. Sebab mereka tidak mau berkonsultasi apalagi meminta pendapat dari para ahli agama padahal mereka mengetahui betapa pentingnya kedudukan ulama syariat.
Pada dasarnya, tidak ada musibah yang lebih dahsyat yang akan menimpa umat selain jauhnya mereka dari ilmu dan ulama. Maka tidak heran apabila Rasulullah SAW bersabda bahwa apabila mereka jauh dari 2 hal ini maka rusaklah urusan dunia dan agamanya. Rasulullah SAW bersabda:
“Apabila sebuah urusan diserahkan kepada yang bukan ahlinya, tunggulah kehancurannya.” (HR. al-Bukhari)
Al-Hasan al-Bashri rahimahullah berkata, “Kalau bukan karena adanya ulama, sungguh umat manusia akan seperti binatang ternak.” (Mukhtashar Nashihati Ahlil Hadits)
Ada beberapa hal yang menyebabkan jauhnya umat dari para ahli syariat. Di antaranya lebih sedikitnya jumlah ulama dibanding dengan kebutuhan umat. Kedua yaitu dijatuhkannya kewibawaan para ulama di hadapan umat Islam dengan berbagai cara.
Demikianlah informasi mengenai dua penyebab utama marak terjadinya kesesatan di atas muka bumi ini. Ternyata penyebabnya ialah kebodohan yang dialami umat serta semakin jauhnya umat tersebut dari ulama syariat. Semoga kita bukan termasuk dalam golongan orang-orang yang sesat.
Sumber: infoyunik.com



Menjaga Suami dari Godaan Wanita Lain di Sosial Media

Apa yang bisa kita lakukan sebagai seorang istri agar suami kita tidak tergoda aktivitas iseng namun membahayakan di sosial media itu? Apalagi bagi beberapa suami, akun sosial media atau telepon genggam adalah barang pribadi, sehingga mereka tidak suka berbagi password akunnya.
Sehingga kita tidak mungkin mengawasi pesan-pesan di akun sosial medianya. Namun kita juga tidak mau kecolongan seperti Arini atau Eliana. Beberapa tips berikut ini mungkin bisa berguna.
1. Buat Kesepakatan Dengan Suami Mengenai Aktivitas Chatting Dengan Lawan Jenis
Katakan kepada suami kalau kita tidak melarang mereka ngobrol atau berdiskusi dengan teman perempuannya. Tapi, ketika si teman perempuan mulai curhat masalah pribadinya sebaiknya segera dihentikan.

Sarankan untuk curhat pada teman perempuannya saja. Karena berawal dari curhat, akan datang rasa iba, lalu suami kita merasa tertantang untuk menjadi hero bagi perempuan itu.
2. Berteman Dengan Suami di Sosial Media
Ada beberapa istri yang merasa tidak perlu berteman dengan suaminya di sosial media, toh setiap hari juga ketemu di rumah, kalau mau berinteraksi ya tinggal langsung.

Biasanya begitu alasannya. Padahal dengan berteman di sosial media, kita akan tahu aktivitas suami; siapa saja temannya yang paling seri dikasih jempol atau komennya, bagaimana tingkat keakraban dia bersama temannya.
3. Chatting Dengan Suami di Sosial Media
Apalagi kalau suami sedang dinas di luar kota. Seringlah ajak suami chatting, baik untuk menanyakan keadaannya atau sekedar mengabarkan keadaan anak-anak dan situasi di rumah.

Kirimkan foto-foto atau video anak yang lucu-lucu sehingga suami kita merasa terhibur dan merasa dekat dengan keluarganya. Jangan biarkan suami mengisi waktu luangnya ketika dinas di luar kota dengan chatting bersama wanita lain. Bahkan ketika suami sedang di kantor, sapalah dia di saat-saat jam istirahatnya. Beri suami perasaan rindu ingin cepat pulang.
4. Kirimkan Pesan-pesan ‘Nakal’ Pada Suami
Sesekali kirimi suami dengan pesan-pesan yang nakal nan menggoda sehingga suami merasa ingin cepat-cepat pulang ke rumah bertemu kita. Selain untuk menyegarkan dan menghangatkan hubungan, juga untuk mencegah suami pergi hang out sepulang kerja.

5. Tutup Peluang Selingkuh
Bila kita mendapati suami berkirim pesan mesra dengan wanita lain di sosial medianya, segera katakan pada suami kalau kita tidak suka. Bila si wanita masih terus menggoda, minta dengan tegas pada suami untuk memutuskan pertemanannya dengan perempuan tersebut.

6. Jangan Melakukan Hal yang Sama
Bila kita tidak suka suami berinteraksi mesra dengan perempuan lain di sosial media, maka kita juga jangan coba-coba melakukan hal yang sama. Iseng chatting dengan teman pria lain atau memberikan komentar yang iseng namun menggoda di status teman pria kita.

Apalagi bila ada teman pria yang terang-terangan menggoda, segera putuskan pertemanan kalau perlu di-block.
7. Doa
Pada akhirnya doa adalah senjata terbaik kita. Memintalah pada Allah agar suami kita terhindar dari godaan wanita lain. Karena sesungguhnya Allah yang menggenggam hati suami kita, mintalah pada-Nya agar menjadikan suami kita suami yang setia, baik dan soleh, yang bisa menjadi imam bagi kita dan anak-anak.

Oleh: Irra Fachriyanthi
Ibu empat anak yang kini berdomisili di Qatar. Beberapa cerita anaknya sudah dimuat di Bobo. FB: Irra Fachriyanthi






Di KTP Islam, Tapi Masih Mencari Tuntunan Selain Islam. Apa Kata Dunia?

Al-Qur’an adalah kalamullah yang diturunkan sebagai penyempurna bagi kitab-kitab samawi sebelumnya. Ia merupakan sumber ajaran umat islam. Petunjuknya menyeluruh mencakup seluruh aspek hidup manusia. Karena itu, tak pantas bagi seorang mukmin merasa ada yang kurang dengan al-Qur’an lalu mencari petunjuk lain dari kitab-kitab sebelumnya.
Salah seorang sahabat Nabi bernama Khalid bin ‘Urfathah mengisahkan, “Aku duduk di sisi Umar r.a, Tiba-tiba didatangkan seorang lelaki dari Abdul Qais yang tinggal di negeri Khauzistan. Umar lalu berkata kepadanya, ‘Apakah kamu si fulan bin fulan Al-Abdi?’
Ia menjawab, ‘Ya.’ Umar lalu memukulkan tongkat yang dipegangnya.
Lelaki tersebut pun bertanya, ‘Ada apa denganku, wahai Amirul Mukminin?’
Umar lalu berkata kepadanya, ‘Duduklah!’ Ia pun duduk. Umar lalu membaca firman Allah Ta’ala:
الر تِلْكَ آَيَاتُ الْكِتَابِ الْمُبِينِ * إِنَّا أَنْزَلْنَاهُ قُرْآَنًا عَرَبِيًّا لَعَلَّكُمْ تَعْقِلُونَ*  نَحْنُ نَقُصُّ عَلَيْكَ أَحْسَنَ الْقَصَصِ بِمَا أَوْحَيْنَا إِلَيْكَ هَذَا الْقُرْآَنَ وَإِنْ كُنْتَ مِنْ قَبْلِهِ لَمِنَ الْغَافِلِينَ
“Alif, lâm, râ. Ini adalah ayat-ayat kitab (Al-Quran) yang nyata (dari Allah). Sesungguhnya, Kami menurunkannya berupa AlQuran dengan berbahasa Arab, agar kamu memahaminya. Kami menceritakan kepadamu kisah yang paling baik dengan mewahyukan Al-Quran ini kepadamu. Dan sesungguhnya, kamu sebelum (kami mewahyukan)-nya adalah termasuk orang-orang yang belum mengetahui.” (Yusuf: 1-3)
Umar membacanya tiga kali dan memukulnya tiga kali. Lelaki ini betanya, ‘Ada apa wahai Amirul Mukminin?’
‘Engkaukah yang telah menyalin kitab-kitab Daniel?’, Tanya Umar kembali
Ia menjawab, ‘Perintahkanlah kepadaku dengan perkaramu hingga aku mengikutinya.’
Umar berkata, ‘Hapuslah dengan api dan kain putih, kemudian janganlah engkau membacanya atau janganlah engkau bacakan kepada seorang pun. Jikalau sampai kabar kepadaku bahwa engkau membacanya atau engkau membacakannya terhadap salah seorang dari masyarakat maka akan aku lebihkan hukumannya. Duduklah!’
Ia lalu duduk di depan Umar. Umar berkata, ‘Aku pernah pergi dan menyalin sebuah kitab dari ahli kitab, kemudian kumasukkan ke dalam adim (sejenis tas yang terbuat dari kulit yang disamak). Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam lalu berkata kepadaku, ‘Apa yang ada di tanganmu wahai Umar?’
Aku menjawab, ‘Wahai Rasulullah ini adalah sebuah kitab yang kusalin untuk menambah ilmu kami.’
Rasulullah lalu marah hingga merah pipi beliau. Kemudiaan kami shalat berjamaah. Orang-orang Anshar berkata, ‘Apakah Nabi kalian telah marah? Senjata! Senjata!’ Mereka lalu datang hingga mereka berkumpul di mimbar Rasulullah…” (HR Abu Ya`la).
Hadits di atas diperkuat oleh hadits riwayat Jabir bin Abdillah bahwa Umar bin Khaththab mendatangi Nabi dengan kitab yang ia dapat dari sebagian Ahli Kitab. Nabi lalu membaca kitab tersebut dan beliau pun marah dan berkata, “Apakah kamu bingung wahai Ibnul Khaththab? Demi Zat yang jiwaku di tangan-Nya, aku telah membawakan kepada kalian dengan sebuah lembaran putih dan jernih. Janganlah engkau bertanya kepada mereka tentang sesuatu, lalu mereka menceritakan kepada kalian dengan benar tetapi kalian mendustakannya. Atau mereka menceritakan kepada kalian kebatilan tetapi kalian membenarkannya. Demi Zat yang  jiwaku di tanganNya, jikalau Musa hidup maka ia tidak akan bisa kecuali mengikutiku.” (HR Ahmad)
Menurut Abu Ubaidah, kalimat “Amutahawwikûn?” artinya adalah apakah kalian bingung dengan Islam sehingga mengambil dari Yahudi? Ibnu Sayyidihi berkata, “Artinya adalah apakah kalian bingung?”
Ibnu Mandhur berkata, “Artinya adalah, apakah kalian ragu-ragu dan terjerumus?” (Lisânul ‘Arab karya Ibnu Mandhur)
Begitulah sejatinya hidup seorang mukmin. Ia tidak pernah ragu dengan kesempurnaan al-Qur’an yang menuntun hidupnya. Bagaimana pun problematika hidupnya, al-Qur’an tetap menjadi sumber solusinya.
Sumber: kiblat.net | congkop.com



Bermimpi Melihat Jasadnya Sendiri, Artis yang Selalu Tampil Seksi Ini Putuskan Istiqomah Berhijab

Sungguh Allah sangat menyayangi hamba-hambaNya agar senantiasa berada pada jalan yang benar. Itu juga yang dirasakan oleh seorang artis sinetron bernama Ade Fitrie (35 tahun) yang kini menjadi lebih islami dengan mengenakan hijab.
Diakuinya bahwa ia mantap berhijab sejak tiga bulan yang lalu. Hal itu pun terjadi setelah ia mendapat hidayah Allah karena selalu berpikir tentang kematian.
Disebutkan oleh artis yang bermain dalam sinetron Prabu Kian Santang ini bahwa hal tersebut terjadi saat ia masuk rumah sakit.
“Nah, waktu di rumah sakit itu suka mikir bawaannya mau meninggal aja, dan mimpi ngelihat jasad saya sendiri,” ungkap Ade Fitrie saat ditemui di kawasan Cilodong, Depok, Jawa Barat, seperti dilansir dari Warta Kota, Jumat (17/3/2017).
Selain itu juga Ade aktif dalam sebuah yayasan yang bergerak melayani penderita kanker.
“Di lingkungan aku banyak yang sakit sampai kronis, sampai gimana. Nah, aku sekarang di yayasan, bersentuhan langsung dengan orang yang kena kanker serviks dan segala macem,” paparnya.
“Pikirannya udah meninggal mulu abisnya. Jadi ya buat aku ini mudah-mudahan bukan doa, tapi cara Allah menggerakan hati saya untuk bertambah iman saya dan menggunakan pakaian tertutup,” sambungnya.
Ia pun mengaku bersyukur karena sering berpikir tentang kematian sehingga mendapatkan hidayah untuk hidup lebih baik.
“Alhamdulillah, dengan seperti itu, Allah memberikan petunjuk kepada saya untuk lebih Islami,” pungkasnya.



Sikap Orangtua Atau Mertua yang Bisa Memecah Belah Anak-anaknya

Sadar atau tidak, ada beberapa sikap orangtua atau mertua yang sejatinya bukannya membuat anak-anaknya rukun, tapi malah sebaliknya. Padahal, semua orangtua/mertua pastilah bercita-cita melihat anak-anak dan cucu-cucu mereka rukun. Sayangnya, keinginan mulia tersebut kadang tidak didukung dengan tindakan nyata yang sesuai.
Iika saat ini kita adalah orangtua atau calon orangtua yang notabene nanti pasti jadi mertua, maka perhatikan beberapa sikap di bawah ini yang berpotensi menimbulkan kesalahpahaman yang nyata.
1. Ke A Promosi B, ke B Promosi A (Disertai Sikap Membandingkan yang Menyakitkan Hati)
Kalau hanya sekadar cerita mungkin biasa aja, tapi kalau sudah disertai dengan sikap membandingkan siapa pun pasti enggan.

“Coba deh kayak kakakmu itu, usahanya lancar terus. Lha kamu gonta-ganti usaha mulu gak berhasil,” ucapan ketika ketemu salah satu anak.
“Adikmu rajin ekspansi usaha, enggak mudah puas dengan hanya megang satu jenis usaha. Makanya maju. Lha kamu satu aja gak beres-beres,” ucapan ketika mengunjungi anak yang lain.
Sebenarnya maksud orangtua atau mertua adalah untuk memotivasi. Tapi, apakah harus dengan cara ambigu seperti itu. Tidak adakah cara lain? Jika anak-anaknya cukup bijak mungkin tidak terpengaruh.
Tapi, bagaimana jika anak-anaknya menganggap serius? Si adek berpikir kalau si kakak sekarang maju pesat dan dia enggak ada apa-apanya sedangkan si kakak berpikir kalau si adek udah jauh didepan dan enggak mungkin menghargai dirinya. Nah. Dari yang tadinya enggak ada masalah jadi ada hanya karena kata-kata tajam dan tidak bijak.
Jangan mengadu domba ya. Bila pun ingin menasihati, sampaikan dengan cara yang baik. Anak juga punya harga diri.
2. Ke A Jelek-jelekkin B, ke B Jelek-jelekkin A
Sikap kedua ini adalah kebalikan dari sikap pertama. Dan ternyata, ini pun tidaklah etis. Jika yang sebelummya berpotensi menimbulkan sikap iri/rendah diri pada saudara, maka yang kedua ini sebaliknya berpotensi membuat anak-anak merasa lebih tinggi (meremehkan).

Entah maksud orangtua atau mertua bersikap begini. Bisa jadi hanya ingin sekadar curhat atau membuat si anak sayang padanya dengan cara yang tidak tepat.
“Si B itu, mama gak bisa percaya lagi. Dia itu ada unsur sembrono, beda sama kamu yang konservatif,” ucapan ketika bersama A.
“Ya Allah, si A itu ya sensitif banget. Pantesan susah dapat jodoh. Mbok ya yang seperti kamu gitu kuat mental,” ucapan ketika bersama B.
3. Lebih Menyayangi yang Nampak Berhasil
Keberhasilan tidak bisa diukur mutlak hanya dengan uang. Ada yang secafa finansial biasa saja, tapi hidup aman dan nyaman serta bermanfaat. Ada pula yang secara finansial berlebih, tapi rumah tangga bagai di neraka.

Orangtua atau mertua sebaiknya peka. Jangan hanya perhatian kepada anak yang nampak berhasil saja dimana ukuran keberhasilan tersebut sifatnya juga sangat subyektif. Hargai dan sayangilah semua anak, titipan Allah.
Menyanjung salah satu anak dan memandang rendah yang lain akan membuat anak kesayangan merasa spesial atau sombong dan anak yang tidak disayang tersebut sebaliknya.
Semoga kita tidak menjadi orangtua atau mertua penghancur harapan ya, Bund.
4. Memaksa Harus Seragam
Setiap anak memiliki potensi yang berbeda-beda. Hargailah. Manusia tidak punah karena adanya perbedaan. Ada yang jadi pegawai, ada yang jadi pedagang, petani, guru, dll. Coba semua seragam, udah punah sejak lama.

“Pokoknya berhasil itu kalau masuk kedokteran. Titik!”
“Pokoknya kamu harus jadi PNS seperti kakakmu!”
Bijak, enggak?
5. Tidak Menganggap Penting Ilmu Agama
“Anak pondok itu kuper,”
“Beragama atau tidak sama aja,”
“Agama itu enggak usah terlalu dibawa ke hati,”
Astaghfirullah. Na’udzubillah.
Beragama islam, tapi tidak bangga dengan identitas sebagai muslim. Siapa yang ngasih semua rezeki jika bukan karena izin Allah? Subhanallah. MasyaAllah.
Kelima sikap di atas masih bisa bercabang lagi, Bun. Semoga kita bisa menghindarinya.
Oleh: Miyosi Ariefiansyah
@miyosimiyo adalah istri, ibu, penulis, dan pembelajar.






Bagaimana Jika Tidak Baca Basmalah Saat Membaca Al-Qur’an? Ini Penjelasannya

Sering kita mendengar bahwa umat Islam saat membaca Alquran tidak membaca basmalah. Namun, ada orang yang ketika membaca Alquran hanya membaca taawudh, kemudian membaca ayat. Apa itu benar?
Atas pertanyaan itu, Ustaz Ammi Nur Baits (Dewan Pembina Konsultasisyariah.com) menjawab; Bismillah was shalatu was salamu ala Rasulillah, amma badu,
Pertama, setiap membaca Alquran, yang dimulai dari bagian manapun, kita dianjurkan membaca taawudz. Sehingga sebisa mungkin, taawudz tidak ditinggalkan. Karena ini perintah yang Allah sebutkan dalam Alquran. Allah berfirman,
“Apabila kamu membaca Alquran, hendaklah kamu meminta perlindungan kepada Allah dari setan yang terkutuk.” (QS. An-Nahl: 98)
Kedua, menurut mayoritas ulama, bacaan basmalah dianjurkan ketika kita membaca Alquran dimulai dari awal surat. Dalilnya, hadis dari Anas bin Malik Radhiyallahu anhu, beliau menceritakan,
Suatu ketika Rasulullah Shallallahu alaihi wa sallam terbangun dari tidur sambil tersenyum. Kamipun bertanya, Ya Rasulullah, apa yang membuat anda tersenyum? beliau bersabda, “Baru saja turun kepadaku satu surat.” Kemudian beliau membaca,
Bismillahirrahmanirrahiiim.. innaa athainaakal kautsar dst (HR. Ahmad 12322, Muslim 921, dan yang lainnya).
An-Nawawi mengatakan,
Selayaknya dijaga untuk membaca bismillahirrahmanirrahim di setiap awal surat. Kecuali surat at-Taubah. Karena mayoritas ulama mengatakan, ini adalah satu ayat (khusus) yang ditulis di mushaf. Dan ayat ini ditulis di semua awal surat, kecuali at-Taubah. (at-Tibyan fi Adab Hamalah Alquran, hlm. 81).
Namun jika kita membacanya di pertengahan surat, misalnya, kita baca surat al-Baqarah langsung dari ayat 183, maka tidak masalah baca basmalah, tapi jika hanya membaca taawudh dan langsung baca ayatnya, tidak dicela.
Dalam al-Adab as-Syariyah dinyatakan,
Dianjurkan membaca basmalah di awal semua surat, baik ketika salat maupun di luar salat. Sebagaimana yang ditegaskan Imam Ahmad. Beliau mengatakan, “Jangan sampai ditinggalkan.”
Ada yang bertanya kepada beliau, “Jika dia membaca basmalah di tengah surat?” jawab Imam Ahmad, “Tidak masalah dia baca.” (al-Adab as-Syariyah, Ibnu Muflih, 2/326).
Ketiga, khusus untuk awal surat at-Taubah, dianjurkan untuk tidak diawali dengan basmalah, namun cukup baca taawudh. Di antara sebabnya, kesepakatan sahabat di zaman Utsman. Dalam mushaf Utsman tidak ada tulisan basmalah di awal surat at-Taubah. Dan menurut Utsman, itu yang beliau pahami dari isyarat yang diajarkan Nabi Shallallahu alaihi wa sallam.
Ibnu Abbas Radhiyallahu anhuma pernah bertanya kepada Utsman,
Apa yang membuat anda meletakkan al-Anfal yang merupakan salah satu dari tujuh surat yang panjang disusul dengan at-Taubah yang merupakan surat al-Miin (surat yang jumlah ayatnya ratusan). Anda letakkan secara berurutan, sementara tidak anda tuliskan basmalah di antara keduanya.
Jawab Utsman Radhiyallahu anhu,
Dulu, ketika turun Alquran kepada Rasulullah Shallallahu alaihi wa sallam, beliau memanggil sahabat yang bertugas mencatat wahyu. Lalu beliau mengarahkan, Letakkan ayat ini di surat A. Dan surat al-Anfal termasuk surat yang awal-awal turun di Madinah. Sementara surat at-Taubah adalah surat yang akhir turun. Sementara pembahasan di surat at-Taubah mirip dengan yang ada di surat al-Anfal. Aku menduga, surat at-Taubah masih bagian dari surat al-Anfal. Hingga Rasulullah Shallallahu alaihi wa sallam wafat, beliau tidak menjelaskan kepada kami kalau itu bagian dari al-Anfal.
Karena itulah, saya urutkan keduanya dan saya tidak menuliskan basmalah di antara keduanya, lalu aku letakkan di deretan tujuh surat yang panjang. (HR. Abu Daud 786 & Turmudzi 3366).
Di awal surat at-Taubah berisi pengumuman permusuhan antara Allah dan Rasul-Nya Shallallahu alaihi wa sallam dengan orang-orang musyrikin. Karena itu, surat at-Taubah sering disebut surat Baraah (permusuhan).
Demikian pula, surat ini isinya mempermalukan orang-orang munafik. Hingga Ibnu Abbas menyebutnya dengan surat al-Fadhihah (Yang mempermalukan). Karena itulah, ketika Muhammad al-Hanifiyah putra Ali bin bin Thalib ditanya mengapa dalam surat at-Taubah tidak diawali dengan basmalah.
Beliau menjawab, Sesungguhnya surat Baraah turun membawa pedang. Sementara bismillahirrahmanirrahim adalah lambang keamanan. (Zadul Masir, 3/144). Wallahu alam.
Sumber: inilah.com



Thursday, October 12, 2017

Inilah Wanita yang Doanya Mampu Tembus Langit ke-7

Kisah ini terjadi pada masa kehidupan Nabi Muhammad SAW. Salah seorang wanita dengan tingkat keimanan tinggi datang menemui Manusia kecintaan Allah ini. Ia menghadapi satu kondisi yang mengharuskannya mendapatkan pencerahan.
Namun ternyata, kala itu Nabi belum bisa menjawab karena belum ada wahyu yang diturunkan Allah terkait hal itu. Namun, ini tak lantas membuat si wanita menyerah, Ia berdoa dan memohon kepada Allah agar memberi jalan keluar atas permasalahan hidupnya.
Ternyata doa ini langsung dihijabah Allah. Seketika Nabi menerima Surat Al-Mujadalah sehingga bisa menjawab permasalahan wanita tersebut. Siapa dia sebenarnya? Mengapa doanya dapat  menembus langit ke tujuh dengan demikian cepat?
Nama lengkap wanita ini adalah Khaulah binti Tsa’labah bin Ashram bin Farah bin Tsa’labah Ghanam bin ‘Auf. Ia merupakan istri dari Aus bin Shamit bin Qais dan dari pernikahan mereka lahir seorang putra yang diberi nama Rabi’.
Kisah saat doanya yang mampu menembus langit ini bermula ketika terjadi permasalahan antara dirinya dan suaminya. Dalam kondisi marah, sang suami kemudian mengeluarkan kalimat yang membuatnya merasa cemas dan perlu memperjelasnya kepada Nabi.
Kalimat yang dilontarkan suaminya tersebut adalah “Bagiku engkau ini seperti punggung ibuku”. Meski setelah itu suaminya berlalu pergi bersama sahabat-sahabatnya, namun tidak serta merta membuat Khaulah melupakan perkataan tersebut begitu saja.
Baginya perkataan tersebut seperti talak dari sang suami kepada dirinya. Sepulangnya dari berkumpul dari sahabatnya, sang suami kemudian menginginkan hubungan suami istri dengan Khaulah.
Namun, Khaulah menolak karena perasaannya yang begitu tidak bisa menerima atas ucapan Aus sang suami. Khaulah berkata, “Tidak… jangan! Demi yang jiwa Khaulah berada di tangan-Nya, engkau tidak boleh menjamahku karena engkau telah mengatakan sesuatu yang telah engkau ucapkan terhadapku sehingga Allah dan Rasul-Nya lah yang memutuskan hukum tentang peristiwa yang menimpa kita.”
Setelah peristiwa tersebut, Khaulah kemudian menemui Rasulullah SAW. Ia pun menceritakan kejadian yang dialaminya kepada sang Nabi. Ia berharap Nabi memberikan pencerahan terhadap apa yang sudah dialami.
Namun, Ia harus kecewa, pasalnya pada masa itu, belum ada kejadian yang dihadapi umat dan baru Khaulah yang mengalaminya. Sehingga belum turun firman Allah yang menjelaskan tentang hal  ini.
Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Kami belum pernah mendapatkan perintah berkenaan urusanmu tersebut … aku tidak melihat melainkan engkau sudah haram baginya.”
Ini artinya, hubungan mereka sudah tidak diperbolehkan lagi. Namun, hati kecil Khaulah pun masih bergejolak, mengingat jika Ia berpisah dengan sang suami, maka akan sulit baginya menghidupi diri dan anaknya Rabi’. Namun Rasulullah Shalalahu ‘alaihi wasallam tetap menjawab, “Aku tidak melihat melainkan engkau telah haram baginya.”
Setelah peristiwa ini, wanita tersebut terus berdoa memohon kepada Allah agar memberi petunjuk terkait permasalahannya. Kedua matanya meneteskan air mata dan perasaan menyesal. Tiada henti-hentinya Ia berdoa ini berdo’a yang kemudian dikabulkan Allah.
“Yaa Allah sesungguhnya aku mengadu kepada-Mu tentang peristiwa yang menimpa diriku.”.
Ternyata doa ini dihijabah Allah. Rasulullah SAW seketika pingsan seperti biasa saat menerima wahyu. Kemudian setelah Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wasallam sadar kembali, beliau bersabda,
“Wahai Khaulah, sungguh Allah Subhanahu wa Ta’ala telah menurunkan ayat Al-Qur’an tentang dirimu dan suamimu, kemudian beliau membaca firman QS. Al-Mujadalah: 1-4, yang artinya:
1.      “Sesungguhnya Allah telah mendengar perkataan wanita yang mengajukan gugatan kepada kamu tentang suaminya, dan mengadukan (halnya) kepada Allah. Dan Allah mendengar soal jawab antara kamu berdua. Sesungguhnya Allah Maha Mendengar lagi Maha Melihat.”
2.      Orang-orang yang menzhihar (menganggap isterinya sebagai ibunya, atau menyamakan istrinya dengan ibunya sebagaimana ucapan Aus di alinea kedua di atas,  Red) isterinya di antara kamu padahal tiadalah isteri mereka itu ibu mereka. Ibu-ibu mereka tidak lain hanyalah wanita yang melahirkan mereka. Dan sesungguhnya mereka sungguh-sungguh mengucapkan suatu perkataan yang munkar dan dusta. Dan sesungguhnya Allah Maha Pema`af lagi Maha Pengampun.
3.      Orang-orang yang menzhihar isteri mereka, kemudian mereka hendak menarik kembali apa yang mereka ucapkan, maka (wajib atasnya) memerdekakan seorang budak sebelum kedua suami isteri itu bercampur. Demikianlah yang diajarkan kepada kamu, dan Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan.
4.      Maka barangsiapa yang tidak mendapatkan (budak), maka (wajib atasnya) berpuasa dua bulan berturut-turut sebelum keduanya bercampur. Maka siapa yang tidak kuasa (wajiblah atasnya) memberi makan enam puluh orang miskin. Demikianlah supaya kamu beriman kepada Allah dan Rasul-Nya. Dan itulah hukum-hukum Allah, dan bagi orang-orang kafir ada siksaan yang sangat pedih. (QS. Al-Mujadilah : 1-4)
Setelah turun ayat ini, barulah Rasulullah SAW bisa menjelaskan perihal permasalahan yang dihadapi Khaulah. Baginda Rasulullah SAW kemudian menjelaskan kepada Khaulah tentang kafarat (tebusan) Zhihar:
Nabi SAW: “Perintahkan kepadanya (suami Khaulah) untuk memerdekakan seorang budak!”
Khaulah: “Ya Rasulullah dia tidak memiliki seorang budak yang bisa dia merdekakan.”
Nabi SAW: “Jika demikian perintahkan kepadanya untuk shaum dua bulan berturut-turut.”
Khaulah: “Demi Allah dia adalah laki-laki yang tidak kuat melakukan shaum.”
Nabi SAW: “Perintahkan kepadanya memberi makan dari kurma sebanyak 60 orang miskin.”
Khaulah: “Demi Allah ya Rasulullah dia tidak memilikinya.”
Nabi SAW: “Aku bantu dengan separuhnya.”
Khaulah: “Aku bantu separuhnya yang lain wahai Rasulullah.”
Nabi SAW: “Engkau benar dan baik maka pergilah dan sedekahkanlah kurma itu sebagai kafarat baginya, kemudian bergaullah dengan anak pamanmu itu secara baik.”
Sumber: infoyunik.com



Ini 17 Keutamaan Membaca Al-Qur’an Setiap Hari

Al-Qur’an adalah kalam Allah SWT yang merupakan sebuah mukjizat yang diturunkan kepada Nabi Muhammad SAW, di tulis dalam mushaf dan diriwayatkan secara mutawatir, serta membacanya adalah termasuk ibadah.
Berikut adalah 17 Keutamaan Membaca Al Quran dalam islam;
1. Sebaik-baik Manusia yang Mempelajari dan Mengajarkan al-Qur’an
Sabda Nabi Muhammad saw: “Sebaik-baik kalian adalah siapa yang memperlajari al-Qur’an dan mengamalkannya.” (HR. Bukhari)

2. Pahala Membaca al-Qur’an
Sabda Nabi Muhammad saw: “Siapa saja membaca satu huruf dari Kitab Allah (Al-Qur’an), maka baginya satu kebaikan, dan satu kebaikan itu dibalas dengan sepuluh kali lipatnya.” (HR. At-Tirmidzi).

3. Keutaman Membaca al-Qur’an, Menghafalnya dan Pandai Membacanya
Sabda Nabi Muhammad saw: “Perumpamaan orang yang membaca al-Qur’an sedang ia hafal dengannya bersama para malaikat yang suci dan mulia, sedang perumpamaan orang yang membaca al-Qur’an sedang ia senantiasa melakukannya meskipun hal itu sulit baginya maka baginya dua pahala.” (Muttafaq ‘alaih).

4. Pahala Bagi Orang yang Anaknya Mempelajari al-Qur’an
“Siapa saja membaca al-Qur’an, mempelajarinya dan mengamalkannya, maka dipakaikan kepada kedua orang tuanya pada hari kiamat mahkota dari cahaya dan sinarnya bagaikan sinar matahari, dan dikenakan pada kedua orang tuanya dua perhiasan yang nilainya tidak tertandingi oleh dunia.

Keduanya pun bertanya, ‘bagaimana dipakaikan kepda kami semuanya itu?’ Dijawab, ‘karena anakmu telah membawa al-Qur’an”. (HR. Al-Hakim).
5. Al-Quran Memberi Syafa’at Kepada Ahlinya di Akhirat
Sabda Nabi Muhammad saw: “Bacalah al-Qur’an karena ia akan datang pada hari kiamat sebagai pemberi syafa’at kepada para ahlinya.” (HR. Muslim)

Dan sabda beliau Nabi Muhammad saw: “Puasa dan Al-Qur’an keduanya akan memberikan syafa’at kepada seorang hamba pada hari kiamat…” (HR. Ahmad dan Al-Hakim).
6. Pahala Bagi Orang yang Berkumpul Untuk Membaca dan Mengkajinya
Nabi Muhammad saw bersabda: “Tidak berkumpul sauatu kaum di salah satu rumah Allah SWT, sedang mereka membaca kitab-Nya dan mengkajinya, melainkan mereka akan dilimpahi ketenangan, dicurahi rahmat, diliputi para malaikat, dan disanjungi oleh Allah di hadapan para makhluk dan di sisi-Nya.” (HR. Abu Dawud).

7. Dapat Menentramkan Hati
“(yaitu) orang-orang yang beriman dan hati mereka manjadi tenteram dengan mengingat Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingati Allah-lah hati menjadi tenteram.” (QS.13:28).

8. Dapat Menyembuhkan Penyakit
“Hendaknya kamu menggunakan kedua obat-obat: madu dan Al-Qur’an” (HR. Ibnu Majah dan Ibnu Mas’ud).

9. Pembaca al-Qur’an Dikurniakan Hatinya Dengan Cahaya Oleh Allah dan Dipeliharanya Dari Kegelapan
Diriwayatkan dari Abu Hurairah ra yang maksudnya: “Bahwa Rasulullah saw bersabda: “Siapa yang medengar satu ayat daripada Kitab Allah Ta’ala (al-Qur’an) ditulis baginya satu kebaikan yang berlipat ganda. Siapa yang membacanya pula, baginya cahanya di hari kiamat.”

10. Pembaca al-Qur’an Memperoleh Kemulian dan Diberi Rahmat Kepada Ibu Bapaknya
Nabi Muhammad saw bersabda maksudnya: “Siapa yang membaca Al-Qur’an dan beramal dengan isi kandungannya, dianugerahkan kedua ibu bapaknya mahkota di hari kiamat.

Cahayanya (mahkota) lebih baik dari cahaya matahari di rumah-rumah dunia. Kalaulah demikian itu matahari berada di rumahmu (dipenuhi dengan sinarnya), maka apa sangkaan kamu terhadap yang beramal dengan ini (al-Qur’an).” (HR. Abu Daud).
11. Pembaca al-Qur’an Memperoleh Kedudukan yang Tinggi Dalam Surga
Bersabda Rasulullah saw yang maksudnya: Dikatakan kepada pembaca al-Qur,an:

“Bacalah (al-Qur’an), naiklah (pada darjat-darjat syurga) dan bacalah dengan tartil sebagaimana engkau membacanya dengan tartil didunia. Sesungguhnya kedudukan drajatmu sehingga kadar akhir ayat yang engkau baca.” (HR. Ahmad).
12. Membaca Satu Huruf al-Qur’an Akan Memperoleh 10 Kebaikan
Rasulullah saw bersabda: “Barang siapa yang membaca satu huruf kitab Allah, maka ia akan mendapatkan satu kebaikan dengan huruf itu, dan satu kebaikan akan dilipatgandakan menjadi sepuluh. Aku tidaklah mengatakan Alif Laam Miim itu satu huruf, tetapi alif satu huruf, lam satu huruf dan Mim satu huruf.” (HR. Tirmidzi).

13. Orang yang Membaca al-Qur’an Secara Terang-terangan Seperti Bersedekah Secara Terang-terangan
Rasulullah saw bersabda: “Orang yang membaca Al-Qur’an terang-terangan seperti orang yang bersedekah terang-terangan, orang yang membaca Al-Qur’an secara tersembunyi seperti orang yang bersedekah secara sembunyi.” (HR. Abu Dawud, Tirmidzi dan Nasa’i, lihat shahihul jaami’:3105).

14. Al-Qur’an Akan Menjadi Syafaat Bagi Orang yang Membacanya
Rasulullah SAW bersabda dalam salah satu hadistnya “Bacalah Al Quran karena ia akan datang pada hari kiamat untuk memberi syafaat kepada orang yang telah membaca dan mengamalkan isinya”

15. Al-Qur’an Adalah Cahaya Ditengah Kegelapan
Sabda Rasulullah saw,”Aku wasiatkan kepada kalian agar bertakwa kepada Allah dan Al Qur’an sesungguhnya ia adalah cahaya kegelapan, petunjuk di siang hari maka bacalah dengan sungguh-sungguh.” (HR. Baihaqi)

16. Ahlul Qur’an Adalah Keluarga Allah
Sabda Rasulullah saw,”Sesungguhnya Allah mempunyai keluarga dari kalangan manusia.’ Beliau saw ditanya,’Siapa mereka wahai Rasulullah.’ Beliau saw menjawab,’mereka adalah Ahlul Qur’an, mereka adalah keluarga Allah dan orang-orang khusus-Nya.” (HR. Ahmad dan Ibnu Majah)

17. Yang Mahir Membaca Dia Akan Bersama Malaikat, dan yang Terbata-bata Mendapat Dua Pahala
Sabda Rasulullah SAW “Orang yang mahir membaca Al-Qur’an kelak (mendapat tempat disurga) bersama para utusan yang mulia lagi baik. Sedangkan orang yang membaca Al-Qur’an dan masih terbata-bata, dan merasa berat dan susah, maka dia mendapatkan dua pahala.”

Dua pahala ini, salah satunya merupakan balasan dari membaca Al-Qur’an itu sendiri, sedangkan yang kedua adalah atas kesusahan dan keberatan yang dirasakan oleh pembacanya.
Sumber: islampos.com





Begini Cara yang Dianjurkan Rasulullah Jika Istri Ingin Bahagiakan Suami

Berhubungan badan bagi pasangan suami istri tak hanya untuk memenuhi kebutuhan biologis saja. Didalamnya juga terdapat pahala yang akan Allah berikan kepada pasangan yang sudah menikah resmi.
Karena hal ini adalah ibadah, maka pasangan yang melakukan hubungan suami istri harus tahu adabnya agar mendatangkan kebaikan setelahnya.
Rasullah SAW juga telah memberi pesan untuk para istri agar dapat menyenangkan hati suaminya. Salah satunya menciptakan nuansa kemesraan dengan penampilan yang menarik.
Diungkapkan dalam hadist yang dirawayatkan HR. Bukhari, ” Sebaik-baik wanita adalah yang jika engkau melihatnya akan membahagiakan dirimu, jika engkau memerintahnya akan mentaatimu, dan jika engkau tidak berada di sampingnya ia akan menjaga hartamu dan dirinya sendiri.”
Oleh karena itu, seorang istri hendaknya senantiasa menjaga kecantikan, kerapian serta kebersihan saat bersama suami. Mereka harus mampu berdandan seperti yang disukai suaminya.
Saat akan beribadah khusus di kamar, bersoleklah sebaik-baik penampilan yang disukai suami dan di ridhai Allah SWT. Karena itu akan menambah nuansa kemesraan saat berjima.



4 Masalah Wanita Pekerja yang Mungkin Tidak Diketahui Para Ibu Rumah Tangga

Beruntunglah wanita yang bisa fulltime menjadi ibu rumah tangga. Berarti suami telah mampu menafkahi dengan cukup.
Jangan sampai keberuntungan ini membuat kita merasa layak memandang rendah para wanita pekerja entah dengan alasan atau pola pikir apapun.
Juga, jangan sampai keberuntungan ini tidak kita syukuri dan malahan kita merasa iri dengan para wanita pekerja yang kelihatannya lebih asyik bisa pegang uang sendiri.
Karena faktanya, ada banyak masalah yang dihadapi para wanita pekerja yang mungkin tak diketahui oleh para ibu rumah tangga:
1. Persaingan di Dempat Kerja
Kalau di antara tetangga saja ada persaingan, yaa bersaing beli peralatan masak baru, bersaing renovasi rumah, dll. Apalagi persaingan di tempat kerja yang lebih ‘gila’.

Ada yang harus sikut-sikutan, dicurangi, atau bahkan terpaksa menjilat hanya untuk mendapat haknya. Karena memang dunia kerja cukup keras.
2. Perjuangan Berjejalan di Transportasi Umum
Ibu rumah tangga memang lelah karena kerja 24 jam sehari. Tapi berysukur tidak perlu berjejalan di transportasi umum tiap pagi dan sore, baik di bis, busway maupun kereta.

Mungkin ada yang nyinyir… “Sudah tahu begitu, yaa nggak usah kerja dong!”
Kalau kita tidak ikut menyumbang untuk menafkahi keperluan dapurnya, atau untuk membayar biaya pengobatan orangtuanya yang sudah sepuh, rasanya kita tak berhak untuk nyinyir deh. Setiap orang punya masalahnya masing-masing yang tidak bisa kita judge begitu saja.
Lagipula… kalau tidak ada para wanita pekerja, apakah ibu rumah tangga mau melahirkan ditangani bidan pria, dokter pria, karena segala bidang pekerjaan didominasi kaum pria?
Jadi bersyukurlah untuk setiap nikmat perbedaan yang Allah beri.
3. Dilema Ketika Anak Sakit
Jangankan ketika anak sakit, pas anak sehat normal saja para wanita pekerja perlu bersikap tega meninggalkan anaknya di bawah pengasuhan orang lain, entah neneknya sendiri, tetangga, ataupun pengasuh anak.

Apalagi ketika anak sakit, dilema untuk tetap tinggal di rumah merawat anak atau tetap bekerja menuntaskan berbagai amanah menjadi permasalahan yang pasti menghantui para wanita pekerja.
4. Menjelang dan Usai Persalinan
Satu lagi yang menjadi masalah bagi wanita pekerja adalah menjelang persalinan dan juga setelahnya. Cuti 3 bulan rasanya tidak cukup untuk beradaptasi dengan si buah hati yang baru terlahir.

Menyiapkan asi perah, membiasakan anak tanpa gendongan ibundanya, wuih… masa yang berat untuk seorang wanita pekerja.
Rata-rata akan memutuskan resign dari pekerjaan begitu terbentur permasalahan ini. Dan keputusan resign itu pun pasti membawa konsekuensi lainnya untuk sang wanita pekerja, terutama jika memang suaminya tidak bertanggungjawab soal nafkah.
Setidaknya 4 masalah tersebut pasti pernah dihadapi wanita pekerja, akan tetapi semoga kontribusi untuk masyarakat yang diberikan oleh para wanita pekerja ini bisa berbuah pahala.
Barangkali ada yang ingin menambahkan poin-poinnya? Bisa dengan mengisi komentar di bawah artikel. Semoga bermanfaat dan menambah bersyukur.



Heboh, Bocah Korea Selata Adzan Viral di Media Sosial

Seorang bocah Korea Selatan mendadak viral di media sosial. Ia terkenal setelah baru-baru ini beredar sebuah video di Facebook yang merekam aksi sang bocah lelaki Korea ini tengah mengumandangkan azdan di sebuah masjid di kota Incheon.
Dalam keterangan akun Facebook Korean Muslimah pada Selasa (5/9/2017) -yang bersumber dari Incheon masjid and Islamic center, bocah lelaki yang mengenakan kaos berkerah warna abu itu bernama Anas bin Asif, Halallifestyle melaporkan.
Video Anas melantunkan azan berdurasi 71 detik (1 menit 11 detik) hingga Jumat (8/9/2017) mendapat like, love dan wow dari 1400 netizen. Video ini juga ditonton sedikitnya 10.228 view dan dibagikan hingga 368 kali.
“Nice, Masha-Allah,” tulis Najma Zulal Karo. Komentar senada seperti “Alhamdulillah, Allahu Akbar, Masha Allah good baby,” hingga “so sweet” juga datang dari warganet lain yang kagum dengan suara merdu Anas.
Perkembangan jumlah Muslim di Korea hingga hari ini bisa dibilang fantastis. Data terkini dari Korea Muslim Federation (KMF) menyebut jumlah Muslim di Korea mencapai 120 ribu-130 ribu orang.
Jumlah tersebut berasal dari Muslim Korea asli dan para warga asing. Warga asli Korea yang menjadi mualaf berjumlah 45 ribu orang, sedangkan sisanya merupakan pekerja migran yang diantaranya berasal dari Pakistan, Bangladesh, Indonesia, Malaysia, dan negara-negara Timur Tengah.
Sumber: islampos.com



Menyanjung Allah Lalu Berdoa, Berharap Cepat Dikabulkan. Bolehkah?

Di antara adab berdoa yang diajarkan dalam hadits kali ini adalah, sanjung Allah lebih dahulu, lalu berdoa.
Kitab Al-Adzkar Riyadhus Sholihin, Bab Keutamaan Dzikir dan Dorongan untuk Berdzikir
(Hadits no. 1414) Dari Sa’ad bin Abi Waqqash radhiyallahu ‘anhu, ia berkata, ada seorang Arab Badui menghadap Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam lantas berkata, “Ajarkanlah padaku suatu kalimat yang aku bisa mengucapkannya.” Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
(( قُلْ لاَ إلهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَريكَ لَهُ ، اللهُ أكْبَرُ كَبِيراً ، وَالحَمْدُ للهِ كَثيراً ، وَسُبْحَانَ اللهِ رَبِّ العَالِمينَ ، وَلاَ حَولَ وَلاَ قُوَّةَ إِلاَّ بِاللهِ العَزِيزِ الحَكِيمِ )) قَالَ : فهؤُلاءِ لِرَبِّي ، فَمَا لِي ؟ قَالَ : (( قُلْ : اللَّهُمَّ اغْفِرْ لِي ، وَارْحَمْنِي وَاهْدِنِي ، وَارْزُقْنِي ))
“Ucapkanlah: LAA ILAHA ILLALLAH WAHDAHU LAA SYARIKA LAH, ALLAHU AKBAR KABIIRO, WALHAMDULILLAHI KATSIROO, WA SUBHANALLAHI ROBBIL ‘ALAMIN, WA LAA HAWLA WA LAA QUWWATA ILLA BILLAHIL ‘AZIZIL HAKIM (Artinya: Tidak ada sesembahan yang berhak disembah selain Allah Yang Maha Esa dan tidak ada sekutu bagi-Nya. Allah Maha Besar, segala puji bagi Allah yang banyak, Maha Suci Allah Rabb semesta alam, serta tidak ada daya dan upaya kecuali bersama Allah Yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana).”
Orang Arab Badui itu berkata, “Itu semua untuk Rabbku, lalu manakah untukku?” Beliau menjawab, “Ucapkanlah: ALLAHUMMAGHFIR LII WARHAMNII WAHDINII WARZUQNII (Artinya: Ya Allah, ampunilah aku, rahmatilah aku, berilah aku hidayah).” (HR. Muslim, no. 2696)
Penjelasan:
1- Hadits ini menunjukkan perintah untuk berdzikir dengan menyebut bacaan tahlil (Laa ilaha illallah), takbir (Allahu akbar), tahmid (Alhamdulillah), dan tasbih (Subhanallah).
2- Disunnahkan untuk berdzikir dan menyanjung Allah sebelum doa. Karena Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam mengajarkan Arab Badui tersebut sanjungan pada Allah dahulu sebelum doa. Ini yang disebut at-takhliyyah qabla at-tahliyyah, membersihkan dahulu sebelum menghiasi dan mengisi.
3- Hendaknya setiap hamba semangat untuk mempelajari hal yang bermanfaat baginya untuk dunia dan akhiratnya.
4- Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam begitu penyayang pada umatnya karena mengajarkan hal yang manfaat dan kebaikan bagi mereka.
5- Arti laa hawla wa laa quwwata illa billah, sebagaimana kata Ibnu Mas’ud, “Laa hawla berarti tidak ada daya untuk menghindarkan diri dari maksiat selain dengan perlindungan Allah. Wa laa quwwata berarti tidak ada kekuatan untuk melaksanakan ketaatan selain dengan pertolongan Allah.” (Syarh Shahih Muslim, 17:26-27)
Sumber: rumaysho.com





 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | Online Project management